Padang Panjang, Sumatera Barat — Mahasiswa Pascasarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang, Arif Hidayat, mencatatkan prestasi membanggakan setelah berhasil meraih gelar Magister Seni dengan mengangkat topik unik yang jarang disentuh: mitos “Inyiak Balang” dalam bentuk fotografi dokumenter.
Tesisnya berjudul “Visualisasi Mitos Inyiak Balang sebagai Representasi Budaya Lokal dalam Fotografi Dokumenter” ini bukan hanya mendapat apresiasi dari dosen pembimbing dan penguji, tetapi juga membuka ruang diskusi baru soal bagaimana warisan budaya tak benda bisa diangkat melalui pendekatan visual modern.
Mengenal Inyiak Balang: Mitos yang Hidup di Tengah Masyarakat
“Inyiak Balang” merupakan sosok mitologis yang dikenal luas di beberapa wilayah Minangkabau, khususnya daerah Luhak Nan Tigo. Dalam cerita rakyat, ia digambarkan sebagai penjaga rimba yang misterius, sakral, dan disegani. Meskipun bersumber dari cerita lisan turun-temurun, mitos ini masih melekat kuat dalam memori kolektif masyarakat.
“Saya tertarik mengangkat mitos ini karena memiliki lapisan makna yang kaya: tentang alam, spiritualitas, dan hubungan manusia dengan lingkungan. Lewat fotografi dokumenter, saya ingin menunjukkan bagaimana mitos ini masih hidup dalam kesadaran masyarakat,” ungkap Arif.

Baca juga: Kapolres Padang Panjang Hadiri Deklarasi Kampung Bebas dari Narkoba
Fotografi Dokumenter Sebagai Medium Pelestarian Budaya
Dalam proses pembuatan tesisnya, Arif melakukan riset lapangan ke beberapa daerah yang masih memegang tradisi lisan tentang Inyiak Balang. Ia memotret lokasi-lokasi keramat, ritual adat, ekspresi masyarakat, dan lanskap yang diyakini sebagai “wilayah kekuasaan” sang makhluk mitos.
Tak hanya sekadar gambar, karya fotografi Arif juga disertai narasi-narasi etnografi yang kuat, menjadikan proyeknya sebagai karya visual-tekstual yang mampu mengedukasi dan menggugah kesadaran budaya.
“Fotografi tidak hanya soal estetika, tapi juga bisa menjadi jembatan antara generasi—merekam yang lama dan memperkenalkannya ke yang muda,” tambahnya.
Dosen Apresiasi dan Dorong Hilirisasi Akademik ke Pameran Seni
Dosen pembimbingnya, Dr. Elizar dari Program Pascasarjana ISI Padang Panjang, mengapresiasi pilihan tema yang dianggap berani dan relevan. Menurutnya, pendekatan Arif bisa menjadi contoh model riset seni yang menggabungkan nilai akademik, dokumentasi budaya, dan seni kontemporer.
“Tesis ini tidak hanya layak sebagai karya ilmiah, tetapi juga bisa dikembangkan menjadi pameran foto, buku visual, atau bahkan dokumenter video yang dapat disebarluaskan ke publik,” jelas Elizar.
Menjawab Tantangan Zaman dengan Kearifan Lokal
Di tengah tantangan globalisasi dan derasnya arus budaya populer, Arif ingin menunjukkan bahwa kearifan lokal tidak kalah menarik jika dikemas secara kreatif. Ia berharap proyek ini bisa mendorong generasi muda untuk menggali akar budaya mereka sendiri, bukan sekadar menjadi penikmat budaya luar.
“Kita punya banyak cerita hebat di tanah kita sendiri. Tinggal bagaimana kita mengemasnya dengan cara yang sesuai zaman,” tutup Arif.
Dengan kelulusannya ini, Arif tidak hanya meraih gelar magister, tetapi juga membuktikan bahwa seni dapat menjadi media pelestarian budaya yang kuat dan relevan di era digital.





